Tampilkan postingan dengan label reflection. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reflection. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Januari 2009

Harits, bangun subuh ya....


ada yang berubah sejak senin kemarin, kehidupan dimulai lebih pagi...hehehe.. Hal ini terkait kebijakan Pemda DKI mengenai jam sekolah. Ya, jam sekolah untuk daerah DKI dimajukan menjadi jam setengah tujuh untuk mengatasi masalah kemacetan.

Dan seperti biasa, banyak pro-kontra masalah kebijakan ini. Ada yang setuju, ada yang menyebut pemda mengorbankan anak sekolah, ada yang kesal, dst...dst...
kami? seperti biasa, daripada ngomel-ngomel ga jelas, mending langsung action. Begitu dapat pengumuman dari sekolah bahwa jam sekolah mengikuti peraturan Pemda, kita langsung sosialisasi ke anak-anak.
Bahwa jam masuk sekolah dimajuin, konsekwensinya anak-anak harus bangun lebih pagi, supaya bisa bangun lebih pagi? anak-anak harus tidur lebih awal.

Bagaimana, anak-anak sepakat? protes? so pasti donk, namanya juga anak-anak...
"ga boleh main mobilan lagi donk, Yah" kata si abang.
si dedek ikutan "iya yah, ga boleh nonton lagi donk...".
Ah, ga asik, Yah. Maen gim nya kapan donk..
...dst...dst...
hehehe....wah asik juga mendengar komplen anak-anak ;-D
"Bukannya ga boleh, kita cuma mengatur waktunya aja, supaya anak-anak gampang bangun pagi dan tidak ngantuk di kelas. Main mobilan kan bisa siang, nonton juga bisa sore, main game? lha, sesuai kesepakatan kita kalo maen game kan cuma hari sabtu dan minggu...kalo anak-anak tetap tidur jam dua belas pasti susah banguh subuh, trus di sekolah jadi ngantuk, trus ga ngerti apa yang diajarin guru, trus....., trus.....
"gimana? kita sepakat ya....mulai sekarang tidur jam sembilan, ga ada lagi yang tidur jam dua belas...oke?"
"sepakat..sepakat..."kata si abang
"hmmm...iya..sepakat", kata dedek (keliatannya dengan berat hati nih ;-D )

Memang asik musyawarah dengan anak-anak, sepanjang bisa diberi alasan yang masuk akal dan gampang dipahami mereka lebih cepat setuju, ga ngeyel.
Hal ini disosialisasikan terus sampai hari "H".

Hasilnya? so far so good... ;-)

senin, jam stengah enam si abang dibangunin, agak susah dan buru-buru, akhirnya telat sampai sekolah, setengah tujuh lewat sepuluh.

selasa, abis dari mesjid mo nyari berita tv, eh tiba-tiba si abang nongol...."wah, anak ayah udah bangun....hebat nih, udah cuci muka?"
"abang mau shalat subuh dulu, ayah ajarin ya..."
"oke..sip, ayo kita ambil wudhuk"...dalam hati, wah alhamdulillah....

rabu, begitu bangun..eh..si abang juga udah bangun. "Yah, udah subuh" katanya.
"Iya nih, ayo ke mesjid ama ayah...waah..anak ayah hebat nih...bangun subuh..."

Hmmm...ada hikmahnya juga Perda ini ;-)
ah..mudah-mudahan bisa berlanjut untuk seterusnya sehingga Harits terbiasa shalat subuh di mesjid.

Omong-omong masalah pemecahan masalah kemacetan, ada "kesan" pemerintah tidak dan/atau tidak bisa menganalisa dan menyelesaikan masalah secara tuntas sampai ke akar-akarnya (hehehe...kayak yang pinter aja ya...ga apalah, mumpung masih ada kebebasan berpendapat...). Pemerintah membuat program dan melaksanakannya setengah setengah. Untuk masalah kemacetan yang pasti pemerintah harus bisa menyediakan alat transportasi yang nyaman, pemerintah sudah melaksanakannya namun tidak tuntas, misalnya program busway. Secara teoritis program ini bagus dan efektif mengatasi kemacetan, telah terbukti di beberapa negara. Namun proyek busway ini hanya dilaksanakan di DKI padahal sebagian besar pengguna jalan berasal dari daerah sekitar DKI. Sehingga untuk mencapai halte busway terdekat (di DKI), orang harus menempuh "jalan biasa" yang jaraknya cukup jauh, jadi tetap aja butuh kendaraan (pribadi) dan jadi nanggung untuk melanjutkan dengan busway (itupun kalo disediakan lahan parkir dekat halte busway tersebut). Akibatnya busway tidak efektif "memindahkan" orang dari kendaraan pribadi ke busway. Kebanyakan adalah perpindahan penumpang bus ke busway. Tetap macet donk...

Coba kalo pemda DKI berkoordinasi dan bekerjasama dengan pemda Jabar dan Banten kemudian membuat jalur busway yang terintegrasi di DKI dengan daerah sekitarnya. Jadi orang akan naik busway dari bekasi ke DKI atau dari Depok ke DKI.
Udah ada sih pemikiran tersebut, seperti proyek megapolitannya Sutiyoso, namun ternyata sangat susah untuk mengumpulkan kepala daerah - kepala daerah se Jabodetabek. Sepertinya masing-masing mempunyai ego sendiri. so...akhirnya masing-masing daerah membuat kebijakan sendiri-sendiri yang jelas tidak akan bisa memecahkan masalah secara keseluruhan.
hmmm....capek juga nih.

tapi sekali lagi, minimal kami mendapat hikmah yang besar dibalik perda ini, Harits terbiasa shalat subuh di mesjid, semoga..... ;-)

Kamis, 06 November 2008

sekali lagi, belajar dari Amerika

Pemilu presiden AS telah selesai, rakyat AS telah menjatuhkan pilihan pada Barack Hussein Obama sebagai presiden yang akan didampingi politisi berpengalaman, Joe Biden. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari pemilu AS ini. Salah satunya adalah sikap ksatria dalam menerima kemenangan ataupun kekalahan.

Begitu dipastikan memenangkan kursi kepresidenan, Obama berpidato di depan pemilihnya, salah satu isi pidatonya adalah menyatakan rasa hormat dan simpatinya kepada capres dari Partai Republik, John McCain, dan wakilnya, Sarah Palin. Obama menyatakan dirinya tidak sabar untuk bekerja sama dengan McCain dan Palin untuk kemajuan AS.
Sementara John McCain, begitu dipastikan kalah dalam pemilu presiden tersebut juga berpidato di depan pemilihnya dan mengucapkan selamat atas kemenangan Obama.

Tidak ada kerusuhan, tidak ada pernyataan tidak percaya pada hasil perhitungan, tidak ada gugatan terhadap hasil pemilu dan tidak ada hal lain yang akan mencederai proses demokrasi.

Bagaimana dengan Indonesia tercinta? Belajar dari pilkada yang telah dilaksanakan, ternyata kita masih harus belajar buanyaak... Belajar bagaimana menjadi pemimpin yang ksatria, bagaimana menjadi negarawan dan bagaimana menjadi rakyat yang ksatria. Sekali lagi, apapun pandangan dan penilaian kita terhadap AS, kita harus belajar bagaiman mereka melaksanakan proses demokrasinya.....

Kamis, 16 Oktober 2008

Indonesia, harapan itu masih ada

Semalam nonton Soegeng Sarjadi Forum di Q-TV, forum diskusi yang selalu menampilkan narasumber yang kompeten di bidangnya. Judul yang dibawakan adalah ”ekonomi Amerika, ekonomi dunia dan ekonomi Indonesia, Quo- Vadis” dengan nara sumber Bpk Siswono Yudohusodo (pengusaha dan mantan menteri), Bpk.Putu Gede Ary Suta (Chairman Ary Suta Centre dan mantan Kepala BPPN), Bpk.Djamester.A.Simarmata (Dosen FE UI) dan Bpk.Hendrawan Supratikno (pengamat ekonomi dan manajemen). Judul ini diangkat berkaitan dengan krisis ekonomi yang melanda AS dan berdampak ke seluruh dunia.

Tulisan ini tidak akan membahas topik berat ini tapi sangat tertarik dengan pemaparan Bapak Siswono yang menyatakan optimis dengan masa depan Indonesia. Beliau memaparkan hasil penelitian bahwa Indonesia menduduki peringkat 1 sampai 6 besar dalam produksi berbagai hasil alam, petanian dan perkebunan seperti kelapa sawit, emas, lada hitam, dan lainnya. Dengan potensi besar itu Indonesia seharusnya bisa kuat dan bertahan dari pengaruh krisis negara lain.

Namun, walaupun memiliki ”prestasi” demikian, posisi Indonesia tetap saja lemah dalam perekonomian Internasional. Pasar dikuasai oleh perusahaan besar dari Eropa dan Amerika. Dengan kekuatan finansial yang besar, mereka memiliki stok hasil pertanian/perkebunan untuk satu tahun, dengan cara itulah mereka mengandalikan supply agar harga selalu pada tingkat yang mereka inginkan. Sementara Indonesia hanya fokus pada maksimalisasi ekspor. Bapak Siswono memberi masukan agar pemerintah memiliki strategi yang lebih memihak pada petani, salah satunya (disampaikan secara ekstrim) adalah dengan menghentikan ekspor selama satu tahun dan hasil pertanian dibeli oleh pemerintah sebagai stok yang akan dilempar ke pasar pada saat yang tepat agar Indonesia bisa mempengaruhi harga Internasional.
Jadi dibutuhkan strategi dan kebijakan pemerintah yang benar-benar berpihak pada rakyat, dalam hal ini petani.

Dalam diskusi ini Bapak Siswono juga mengkritisi masyarakat Indonesia yang ”luar negri minded”. Padahal kulitas produk dalam negri tidak kalah dengan produk impor. Beliau menceritakan pengalaman pribadi dalam menjual produk jus buah. Produksi pertama diberi merek ”segar” namun gagal di pasar, produksi kedua diberi merek ”all season” dengan berbagai keterangan yang bernuansa impor yang ternyata laris di pasaran padahal produknya persis sama.

Jadi teringat postingan sebelumnya yang berjudul ”makanan daur ulang” yang membahas pemberantasan kemiskinan dengan meningkatkan produksi dalam negri yang diiringi perubahan mindset masyarakat Indonesia menjadi pencinta produksi dalam negri. Ternyata kita tidak perlu memindahkan pabrik susu dari New Zeland atau memindahkan kebun kentang dari Australia yang memakan waktu lama dan investasi besar. Kita mempunyai modal dasar yang sangat besar, yang dibutuhkan hanya keberanian pemerintah untuk mengalihkan keberpihakan dari berpihak pada kaum kapitalis menjadi berpihak kepada rakyat kecil.

Semoga tahun 2009 nanti kita memiliki pemimpin yang kuat dalam membela rakyat Indonesia, tidak hanya menjadi pengikut negara lain, pemimpin yang berani tampil beda seperti pemimpin Irak, Cina, Korea dan Venezuela. Bpk.Hendrawan Supratikno (salah seorang narasumber) menyebutnya sebagai pemimpin yang berani mengambil jalan yang jarang dilalui orang, karena jalan itulah yang terbaik untuk bangsanya.

Pak Sis, terima kasih atas pencerahannya

Selasa, 14 Oktober 2008

belajar dari Amerika

Satu per satu perusahaan besar Amerika bangkrut. Amerika Serikat, sebuah negara super power, dilanda krisis keuangan yang menjalar menjadi krisis keuangan global. Presiden George.W.Bush segera mengundang Partai Republik dan Partai Demokrat untuk membahas masalah yang sedang dihadapi. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Capres dari kedua partai, Barrack Obama dan John Mc Chain.
Mereka duduk bersama membahas masalah yang sedang dihadapi bangsanya. Melupakan sementara persaingan memperebutkan posisi Presiden. Peristiwa yang sangat kita dambakan terjadi di Republik ini, tokoh partai duduk bersama untuk membahas masalah bangsa. Terlepas dari apapun penilaian kita terhadap negeri ”uncle Sam” ini, kita angkat topi atas sikap negarawan mereka. Kepentingan bangsanya diletakkan diatas kepentingan pribadi maupun kelompok / partai.

Dalam sebuah diskusi Soegeng Sarjadi Forum di QTV, Bapak Siswono Yudohusodo mengatakan bahwa Indonesia harus berhenti menjadi ”negara partai”, semua posisi jabatan penting harus ditetapkan melalui persetujuan orang-orang partai (DPR) yang selalu diwarnai kepentingan pribadi dan partai, sehingga mengabaikan kepentingan bangsa.

Sebuah pelajaran berharga dari Amerika bahwa setiap keputusan dan pembahasan yang dilakukan oleh eksekutif, legislatif dan yudikatif haruslah dalam kerangka kepentingan dan keberpihakan pada rakyat, begitulah hakekat demokrasi.

ARAngkayomulia

Jumat, 10 Oktober 2008

episode introspeksi, chapter 1.0

suatu pagi ketika nganterin Harits sekolah, dari Gatot Subroto belok kiri ke arah Tebet Timur. seratusan meter dari belokan tadi ada perempatan, dari arah berlawanan ada motor yang dikendarai seorang ibuk dengan lampu sign kanan nyala. Walaupun pelan tapi tuh motor ga berhenti. Merasa lebih berhak duluan karena ngambil jalan lurus, hadirlah setan dengan judul "jengkel & kesal". Huh...dasar ibuk2, seenaknya aja, maunya duluan terus....ga sopan buanget .....

Tapi..ups...kok ada yang kedip2? ya ampun, ternyata setelah belok kiri dr gatot subroto tadi lupa matiin lampu sign kiri, pantesan si ibuk cenderung cuek, pasti dia pikir aku mau belok kiri, ke jalan yang searah ama dia.

waah...aku pasti lagi dikutukin ibuk2 nih, lampu sign kiri tapi kok malah lurus....
duh..maap deh buk.....
coba kalo sebelum marah2 bisa introspeksi dulu, kan ga perlu buang2 energi.....udah salah, marah2 lagi.. ;-(
yah..penyesalan emang datang kemudian.......semoga menjadi pelajaran

:ARAngkayomulia

Senin, 06 Oktober 2008

artis dan demokrasi

Reformasi politik telah membawa banyak perubahan. Antara lain membuka peluang yang semakin besar bagi warga negara untuk dipilih sehingga menambah alternatif pilihan bagi para pemilih. Salah satunya yang belakangan banyak mendapat sorotan adalah masuknya kalangan artis ke dunia politik praktis.


Sebenarnya fenomena ini bukanlah hal yang baru, telah lama artis diajak oleh parpol untuk menjadi anggota legislatif maupun hanya sebagai jurkam untuk mendulang suara rakyat. Namun reformasi telah membuka pintu lebih lebar bagi artis untuk berpolitik praktis. Dengan sistem pemilihan langsung, sekarang artis tidak hanya menjadi jurkam atau caleg, beberapa telah menggunakan haknya sebagai warga negara untuk dipilih sebagai pemimpin daerah, mereka ikut berkompetisi memperebutkan kursi kepala daerah, bahkan ada yang berhasil meraih suara terbanyak.

Tidak mengherankan, karena sebagai artis, mereka telah melakukan “kampanye” sekian tahun melalui hasil karya seni. Wajah mereka telah familiar dimata pemilih, walaupun kadang pemilih tidak mengenal nama aslinya. Misalnya para pemilih hanya tahu si doel, oneng atau iklan obat. Tidak dapat dipungkiri bahwa popularitas masih menjadi faktor penentu pilihan rakyat. Tidak banyak rakyat yang mau menyediakan waktu dan pikirannya untuk menganalisa atau sekedar tahu track record sang calon.

Sebenarnya tidak ada hal yang perlu dipermasalahkan karena artis juga manusia Indonesia yang mempunyai hak untuk dipilih. Karena pekerja seni adalah sebuah profesi, sama seperti profesi lain seperti dokter, akuntan, petani, pedagang dll. Tapi kenapa banyak orang yang sepertinya “keberatan” dengan fenomena ini? Mungkin tidak ada faktor tunggal, banyak hal yang menyebabkan orang berkesimpulan bahwa artis tidak layak untuk menjadi pejabat negara / daerah. Imej gaya hidup artis yang hura-hura, kawin cerai, modal popularitas doang dll. (sekarang dah ketauan kalo pejabat lebih parah lagi ya...)

Padahal, perkara hura-hura dan kawin cerai tidak hanya dominasi artis, hal yang bisa terjadi pada rakyat biasa, kita bisa lihat di sekeliling kita, bedanya adalah kehidupan artis diberitakan oleh media secara masif sepanjang hari.
Modal popularitas, ini merupakan modal yang besar dan beberapa artis telah melengkapinya dengan pendidikan formal dan pengalaman organisasi dengan menjadi “kader aktif” dari sebuah partai, sebagian bahkan meninggalkan dunia artisnya untuk konsentrasi di politik.

Tapi masih saja ada suara miring yang meremehkan kontribusi artis dalam berdemokrasi. Suara-suara tersebut tidak dapat sepenuhnya disalahkan karena dari sejumlah artis yang terpilih menjadi anggota legislatif ternyata tidak “bersuara” ketika di parlemen atau dari artis yang nyalon dalam pilkada ternyata ada yang belum punya track record sebagai pemimpin / organisator. Hal ini berimbas kepada artis yang benar-benar mempunyai kemampuan, yang bahkan meninggalkan dunia ke-artis-annya.

Bisa disimpulkan beberapa hal yang menyebabkan penilaian tersebut:
1. Pemberitaan yang tidak berimbang mengenai kehidupan artis.
Media cenderung memberi porsi yang besar untuk berita yang negatif dan bernilai sensasional, sementara berita yang mendidik justru tidak begitu mendapat tempat. Berita perceraian diekspos menjadi demikian heboh sementara pembahasan rumah tangga artis yang harmonis seperti tidak menarik. Atau pemberitaan artis yang yang merayakan wisuda sarjananya kalah menarik dari berita perayaan ulang tahun mewah.
2. Terkait dengan poin 1 diatas, pemberitaan pun dilakukan sepanjang hari menjejali pikiran penonton yang memang sudah suka gosip.
3. Hal tersebut diatas tidak terlepas dari sikap masyarakat yang cenderung men-generalisir permasalahan, cenderung menyamaratakan perilaku seseorang sebagai perilaku umum semua orang di kelompoknya, celakanya yang menjadi perhatian hanya perilaku yang negatif, sementara perilaku positif tidak pernah mendapat perhatian.

So, mari berpikir secara positif dan objektif. Benarkah artis tidak memiliki kualitas untuk menjadi pemimpin? Apakah popularitas sudah menjamin kualitas? Bahwa dalam mencari seorang pemimpin atau wakil rakyat yang dibutuhkan adalah komitmen untuk melayani rakyat yang dapat dinilai dari apa yang akan dilakukannya untuk rakyat (visi dan misi) jika terpilih, namun yang lebih penting adalah apa yang telah dilakukannya untuk rakyat (track record) selama ini.

ARA rangkayomulia

Selasa, 23 September 2008

zakat


Kaget juga begitu membaca detik dot kom, ditulis bahwa 21 orang meninggal dalam pembagian zakat. Terdiam dan merinding, fenomena apakah ini? Bukankah pembagian zakat merupakan sebuah ibadah yang mulia?

Mungkin, inilah hikmah dari pelarangan ibadah secara ria, bahwa pemberian terbaik adalah manakala tangan kanan memberi tapi tangan kiri tidak mengetahuinya. Ikhlas. Ya, sebuah ibadah tidak butuh pengumuman, semakin banyak orang yang mengetahui semakin besar godaan syetan untuk berharap pujian dan ria.

Khalifah Ali r.a pernah menyampaikan khutbah yang sangat bagus, begitu turun dari mimbar beliau menanyakan pendapat seorang sahabat mengenai khutbah tadi, jawab sahabat tadi adalah, khutbah tadi sangat bagus sampai saat engkau menanyakannya padaku. Ya, pertanyaan tadi sangat bisa mengundang ria dengan adanya pujian dari sahabat. Begitulah, ria dapat merusak ibadah dan menghilangkan pahalanya tanpa sisa, bahkan kita saksikan bahwa ria dapat mendatangkan mudharat yang besar.

Jika bukan karena ria, bisa jadi karena krisis kepercayaan, pemberi zakat tidak bisa mengandalkan aparat desa / kelurahan atau bahkan pengurus mesjid untuk menyalurkan zakat karena takut tidak sampai kepada penerima yang berhak. Demikian juga dengan lembaga penyalur zakat, mungkin beliau belum menemukan lembaga yang dinilai amanah untuk menyalurkan zakatnya.

Di pihak penerima zakat, bukankah sudah sangat sering kita dengar kalimat bahwa tangan diatas lebih mulia dari tangan dibawah. Seorang muslim juga dilarang menghinakan diri dengan meminta-minta. Disisi lain, ternyata penyakit cinta dunia telah membutakan hati mereka, kehilangan jati diri sebagai manusia sehingga berlakulah hukum rimba, dan sungguh ironis bahwa hal ini terjadi di bulan suci Ramadhan.

Kasus ini sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi lembaga penyalur zakat untuk meningkatkan kredibilitas dan lebih aktif memperkenalkan lembaganya ke pelosok nusantara. Selain lembaga resmi yang berbadan hukum ini, perlu juga diberdayakan kemampuan manajemen pengurus mesjid dengan menerapkan sistim yang transparan dan amanah. Sebenarnya kekuatan jaringan mesjid ini sangat efektif untuk menyalurkan zakat kepada orang yang berhak menerimanya karena beliau-beliaulah yang sangat mengetahui masyarakatnya.

Ya, Allah telah menurunkan teguranNYA melalui berbagai kejadian yang pedih namun penuh hikmah .....


ARA rangkayomulia

makanan daur ulang


Sebuah bisnis baru, makanan daur ulang, limbah daging sisa hotel diolah dan dijual lagi ke pasar tradisional. Terungkap di Kampung Kapuk Jakarta Barat. Sebenarnya ga terlalu baru juga sih, karena menurut pengakuan pelaku, Darmo Sapawiro, bisnis ini sudah dijalaninya sejak lima tahun yang lalu. Yang menjadi tanda tanya adalah kok sampai kepikiran ya?
Dan pelakunya dengan polos menyatakan bahwa bisnis yang sudah ditekuni sejak 5 tahun yang lalu ini mempunyai konsumen yang cukup banyak, bahkan sampai membeli langsung ke lokasi pengolahan.

Ada beberapa faktor yang dapat mendorong munculnya ide gila ini. Beban hidup yang semakin berat mendorong orang mencari pekerjaan untuk memperoleh penghasilan, namun kenyataannya tidak mudah mencari pekerjaan yang layak di negeri ini. Kemudian dengan minimnya pengetahuan dan kepedulian mengenai kesehatan dan kebersihan, muncullah ide-ide kreatif diluar nalar manusia.

Skenario lain adalah kemungkinan dari kebiasaan memulung sampah dan mengkonsumsi makanan sisa, karena melihat masih banyak ”stock” yang tersedia, muncullah ide ini.Kemungkinan lain adalah adanya koordinator dari kegiatan ini, seseorang yang melihat potensi ekonomis dari limbah hotel dan memanfaatkan orang-orang lugu yang memang butuh pekerjaan.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kemiskinan. Kemiskinan merupakan lahan subur untuk segala bentuk penyimpangan. Salah satu cara pengentasan kemiskinan adalah dengan menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyat. Pemerintah bertanggung jawab untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyat, pekerjaan besar ini bisa dimulai dari daftar produk impor dan melihat kemungkinan untuk diproduksi di dalam negeri. Misalnya kenapa harus impor kentang dari Australia? Tidak bisakah para ahli pangan menemukan varietas kentang dengan kualitas Australia yang cocok ditanam di Indonesia, kemudian membina para petani untuk menjaga standar mutu.
Atau susu, kenapa Indonesia hanya menjadi objek, tidak bisakah Indonesia membuka peternakan besar dan membangun pabrik susu sendiri? Bukankah ini akan membuka lapangan pekerjaan dan harga susu menjadi semakin terjangkau oleh masyarakat. 200 juta-an penduduk sungguh merupakan sebuah pasar yang besar. Sangat banyak putra-putri Indonesia yang menjadi pakar di bidangnya. Pemerintah seharusnya bisa memanfaatkan aset bangsa ini.

Memang, pelaksanaannya tidak semudah menulis kalimat ini, dibutuhkan biaya yang besar untuk penelitian dan investasi, dibutuhkan perubahan mindset bangsa ini yang sangat bangga mengkonsumsi produk impor menjadi pencinta produk bangsa sendiri, jadi dibutuhkan komitmen bangsa ini untuk lepas dari cengkeraman produk bangsa lain. Apapun motivasi dibalik kasus ini, harus menjadi pelajaran bagi kita semua, pemerintah harus bisa menyediakan pekerjaan yang layak untuk mengentaskan kemiskinan (bukan mengentaskan orang miskin) sehingga orang tidak lagi berpikir menghalalkan segala cara untuk menghidupi keluarganya. Kita sebagai masyarakat juga harus lebih peduli, peduli terhadap segala yang dikonsumsi dan peduli terhadap lingkungan sekitar sehingga bisa saling mengingatkan.

ARA rangkayomulia

Jumat, 08 Agustus 2008

pengertian

gampang banget mendengar dan membaca ungkapan2 kekecewaan dan kekesalan terhadap kinerja aparat. Sehabis subuh kita disuguhi sarapan berita2 yang “mengajak kita” untuk kecewa, judulnye sih “kritikan”. Koran pagi ga mau kalah, “kritikan” bertebaran sesuai selera pemilik media. Belum lagi kalo dengerin obrolan di warung atau di pasar, oke banget tuh, saingan ama analisa pakar di tipi. Hmm..itu tandanya masyarakat udah cerdas kan……

Sekarang mari kita liat hasil kerja aparat dari sisi lain, dari keseharian kita sebagai rakyat biasa. Kita liat betapa pengertiannya aparat terhadap kebutuhan rakyat. Biar gampang, kita ngobrolnya sepanjang jalan kenangan aja ya….dari rumah ke kantor dan dari kantor ke rumah.

Ada yang biasa lewat jalan Tegal Parang Utara? Dari ujung jalan ini sampai bbrp ratus meter dibikinin parkir khusus. Pinggir jalannya di cor tinggi bbrp sentimeter selebar satu mobil sehingga warga bisa memarkir mobil dengan tenang. Bisa aja karena jalan ke rumah pemilik mobil tidak dapat dilewati mobil atau bisa juga karena kamar tidur mobil yang udah penuh. Ada juga mobil sewaan untuk angkutan barang. Sepanjang parkiran ini diselingi pot bunga besar, warung dan parkiran bengkel. Kita bisa liat betapa pengertiannya pemerintah ama rakyat pemilik mobil ini. Walaupun kasian juga sih pejalan kaki yang harus saingan ama mobil dan motor, semoga segera ada kebijakan yang pengertian terhadap kebutuhan para pejalan kaki ini, semoga segera dibikin trotoar untuk mereka, supaya bisa berjalan dengan aman dan nyaman tanpa waswas dapat ciuman dari mobil or motor dari belakang ;-)

Itu tadi gambaran betapa perhatiannya pemerintah terhadap pemilik mobil. Sekarang giliran sepeda motor, kita ambil sampel dikit aja, jalan Gatot Subroto dari gedung SME,sCo sampai PMI. Pagi hari, saat semua butuh cepat, jalan Gatot Subroto seperti tidak menyisakan ruang untuk sebuah kenyamanan, semua serba terburu-buru di dalam balutan asap dan debu. Yang di mobil pribadi sih ga masalah, nyaman bos, full music lagi. Yang di angkot? Semoga mereka cukup tabah dan kuat di dalam bus yang demikian padat (tapi kalo ada calon penumpang, kondektur ngakunya masih kosong hehe...) plus asap yang menyusup ke dalam bus, plus copet,...duh.... Para bikers? Nha..ini dia, paru2 sih ga masalah, tahan segala kondisi. Tapi jumlah kendaraan yang semakin banyak membuat GatSu kelihatan semakin kecil aja, ini baru jd masalah bagi bikers, ups..tunggu dulu, setiap masalah pasti ada solusinya. Di sebelah kiri kan ada jalan yang sepi tuh, yang di beton itu tuh, nah, pindah jalur, beres deh, bisa tancap gas lagi. Kaget juga, kok tiba-tiba ada motor di depan, waah..jalan kaki disini harus ekstra ati-ati juga nih. Eh, ada aparat berseragam biru tuh, iseng ah nanya apa sekarang ada jalur khusus bikers? Mau tau jawaban beliau? Gini: yaa..gimana lagi mas, ga bisa dilarang sih... cappee deee.... Tapi, sekali lagi kita liat betapa pengertiannya aparat terhadap rakyat bikers. Semoga masih ada kesempatan mikirin pejalan kaki.
Nah, dengan contoh diatas, masihkah dianggap aparat ga mikirin rakyatnya?....
Masih??? Ya udah, EGP lah yaw.... ;-D ternyata lebih gampang mengkritik, karena disengaja atau tidak, banyak tindakan kita yang menzalimi hak orang lain yang bahkan seperti direstui oleh penguasa, jadi..mari mulai disiplin, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal2 kecil, mulai dari sekarang...pesan Aa Gym....


Juli 2008
ARA StRoM